Seorang kakek sedang bekerja dibawah keremangan sinar lampu. Dengan perlahan dan sabar ia mengambil bagian terakhir dari karyanya. Memasangnya menjadi sebuah jam penunjuk waktu yang terlihat kokoh. Kening Sang Kakek keriput tetapi wajahnya terlihat bergembira. Ia telah menantikan waktu ini sejak lama. Kemudian sang kakek mulai memberikan detaknya yang pertama dengan sedikit mengayunkan bandul jam tersebut. Dengan lirh ia mulai berkata, "Wahai jam ku yang rupawan aku ucapkan selamat atas hari jadimu."
Alkisah Jam itu seperti tersenyum dengan 2 jarum tipis sebagai bibirnya.
"Bolehkan aku meminta sesuatu padamu?", minta Sang kakek.
"Tentu saja kakek. Apa yang dapat saya lakukan?", demikian jawab Jam.
"Aku inginkan kamu untuk berdetak sebanyak 604,800 kali untukku setiap minggunya?"
"Kakek aku ini baru saja lahir dan mulai berdetak. Aku tidak yakin apakah aku sanggup memenuhi permintaanmu."
Sang kakek agak menunduk. Tetapi kemudian dia tersenyum.
"Baiklah, jam. Berikan aku detak sebanyak 86,400 setiap harinya. Apakah kamu bersedia wahai jam?", minta Sang Kakek lagi.
Jam menghela nafas panjang. Menatap Sang kakek dan memberikan tatapan ragu. "Entahlah, kakek. Aku ingin sekali mencoba. Tetapi aku takut mengecewakanmu."
Sang kakek menahan rasa kecewanya mendengar jawaban Jam. Didalam hati ia mengerti ketakutan yang dirasakan jam adalah karena rasa sayangnya terhadap sang kakek. Sangkakek menghela nafas panjang.
"Baiklah, Jam. Aku mengerti. Sekarang berikan aku sebuah jawaban yang pasti. Dapatkah kamu membantuku untuk berdetak 1 kali saja setiap detiknya."
Jam melihat harapan di dalam mata Sang Kakek yang begitu dalam. Tiada mampu lagi ia menolak permintaannya walaupun untuk sebuah alasan. Jam menyingkirkan semua pesimis dalam hatinya. Ia memberikan pelukan hangat kepada Sang Kakek.
"Aku berjanji untuk berdetak sebanyak 1 kali setiap detiknya untuk Kakek."
Berikut cerita yang telah aku dengar malam ini. Seorang penyiar wanita menceritakannya di salah satu stasiun radio. Diiringi lagu instrumental piano yang dimainkan dengan bagus. Sedikit mengingatkan kita akan diri kita yang tidak berani bermimpi. Menyediakan seribu alasan untuk menghindari kemungkinan mencapai hal yang luar biasa. Membiarkan kesempatan berlalu hanya karena hati meyakini ketidak sanggupan.
Melalui cerita Sang Kakek Pembuat Jam, kita dapat melihat bahwa hanya sebuah detak saja setiap detiknya yang kita butuhkan. Walaupun sedikit tetapi dengan tekad tidak akan membiarkan detik berlalu tanpa sebuah detak. Dengan kesungguhan untuk mendedikasikan setiap detak kepada orang yang kita cintai. Walaupun hanya sebuah detak tetapi pasti. Berjanjilah tidak akan pernah berhenti. Karena detak kita adalah usaha kita.
Dipenghujung cerita Sang Penyiar radio menyisakan sebuah paragraf terakhir yang membukakan mata kita.
Jam telah memberikan sebuah harapan penuh kepastian kepada Sang Kakek. Dalam hatinya Jam berjanji untuk memberikan satu buah detak setiap detiknya. Sang Kakek tanpa keraguan mempercayai kesungguhan Jam. Tanpa terasa setahun berlalu. Sebanyak 31,104,000 detak telah dilampaui oleh Jam.
Alkisah Jam itu seperti tersenyum dengan 2 jarum tipis sebagai bibirnya.
"Bolehkan aku meminta sesuatu padamu?", minta Sang kakek.
"Tentu saja kakek. Apa yang dapat saya lakukan?", demikian jawab Jam.
"Aku inginkan kamu untuk berdetak sebanyak 604,800 kali untukku setiap minggunya?"
"Kakek aku ini baru saja lahir dan mulai berdetak. Aku tidak yakin apakah aku sanggup memenuhi permintaanmu."
Sang kakek agak menunduk. Tetapi kemudian dia tersenyum.
"Baiklah, jam. Berikan aku detak sebanyak 86,400 setiap harinya. Apakah kamu bersedia wahai jam?", minta Sang Kakek lagi.
Jam menghela nafas panjang. Menatap Sang kakek dan memberikan tatapan ragu. "Entahlah, kakek. Aku ingin sekali mencoba. Tetapi aku takut mengecewakanmu."
Sang kakek menahan rasa kecewanya mendengar jawaban Jam. Didalam hati ia mengerti ketakutan yang dirasakan jam adalah karena rasa sayangnya terhadap sang kakek. Sangkakek menghela nafas panjang.
"Baiklah, Jam. Aku mengerti. Sekarang berikan aku sebuah jawaban yang pasti. Dapatkah kamu membantuku untuk berdetak 1 kali saja setiap detiknya."
Jam melihat harapan di dalam mata Sang Kakek yang begitu dalam. Tiada mampu lagi ia menolak permintaannya walaupun untuk sebuah alasan. Jam menyingkirkan semua pesimis dalam hatinya. Ia memberikan pelukan hangat kepada Sang Kakek.
"Aku berjanji untuk berdetak sebanyak 1 kali setiap detiknya untuk Kakek."
Berikut cerita yang telah aku dengar malam ini. Seorang penyiar wanita menceritakannya di salah satu stasiun radio. Diiringi lagu instrumental piano yang dimainkan dengan bagus. Sedikit mengingatkan kita akan diri kita yang tidak berani bermimpi. Menyediakan seribu alasan untuk menghindari kemungkinan mencapai hal yang luar biasa. Membiarkan kesempatan berlalu hanya karena hati meyakini ketidak sanggupan.
Melalui cerita Sang Kakek Pembuat Jam, kita dapat melihat bahwa hanya sebuah detak saja setiap detiknya yang kita butuhkan. Walaupun sedikit tetapi dengan tekad tidak akan membiarkan detik berlalu tanpa sebuah detak. Dengan kesungguhan untuk mendedikasikan setiap detak kepada orang yang kita cintai. Walaupun hanya sebuah detak tetapi pasti. Berjanjilah tidak akan pernah berhenti. Karena detak kita adalah usaha kita.
Dipenghujung cerita Sang Penyiar radio menyisakan sebuah paragraf terakhir yang membukakan mata kita.
Jam telah memberikan sebuah harapan penuh kepastian kepada Sang Kakek. Dalam hatinya Jam berjanji untuk memberikan satu buah detak setiap detiknya. Sang Kakek tanpa keraguan mempercayai kesungguhan Jam. Tanpa terasa setahun berlalu. Sebanyak 31,104,000 detak telah dilampaui oleh Jam.
Tautan:
No comments:
Post a Comment